Gue percaya kalo masa-masa menyelesaikan tugas akhir (TA atau skripsi) adalah masa-masa terberat yang kebanyakan dialami mahasiswa. Banyak hal yang terjadi selama menyelesaikan skripsi, mulai yang berasal dari diri sendiri maupun luar diri. Mulai dari masalah bingung nentuin tema, nyari subjek, masalah dengan pembimbing skripsi, sampai masalah demotivasi.
Gue termasuk org yang terkena demotivasi berat. Waktu menghadapi kenyataan kalo akan sulit untuk lulus tepat waktu, gue mulai bingung, cukup stress, sampai akhirnya memutuskan untuk sejenak meliburkan diri dari kegiatan ketik-mengetik, wawancara, ketemu dosen, dan analisis itu. Mungkin pada awalnya alasan meliburkan diri itu dirasakan cukup kuat bagi mahasiswa yang merasa telah menghabiskan beberapa bulan terakhir dengan berkutat pada tugas akhir mereka, namun tanpa disadari (atau mungkin sangat disadari) hal itu hanyalah salah satu alasan untuk melarikan diri dari tugas dan tanggung jawab. Begitu seseorang telah terbiasa untuk meliburkan diri, ia akan sulit kembali melanjutkan tugas yang ia tinggalkan. Entah semua mahasiswa merasakan hal itu, tapi setidaknya hal itu terjadi pada gue.
Gue libur dan terlena. Terlena, hmm..dangdut banget sepertinya. Tapi ya..gue belum punya kata lain untuk mendeskripsikan betapa senangnya gue saat nggak perlu memikirkan skripsi dan sibuk dengan kegiatan lain. Tapi ternyata bohong ding kalo gue bilang nggak memikirkan skripsi, justru saat itu pikiran gue selalu dipenuhi dengan skripsi dan pertanyaan-pertanyaan seperti kapan mulai ngerjain lagi, kapan bisa selesai, dan lain-lain. Mungkin itu penjelasan bahwa sebenarnya kita tidak meliburkan diri, tetapi melarikan diri. Karena menurut gue orang yang melarikan diri akan terus dihantui dengan persoalan yang belum mereka selesaikan. Dan beruntunglah bagi orang-orang yang memiliki banyak motivator di sekitar mereka, yang selalu akan membuat kalian jatuh sampai nangis sesenggukan dan mulai sadar kalo masih ada hal yang harus diselesaikan (ps: nangis sesenggukan itu sebenarnya curhat colongan gue, kayanya nggak semua orang ngalamin itu). Melarikan diri bukan satu jalan keluar yang baik dan benar untuk dilalui. Semua harus dihadapi, harus. Mungkin banyak yang berpikir bahwa gampang banget buat gue untuk menulis kalimat ‘harus dihadapi’ itu, memang teorinya gampang tapi kenyataannya prakteknya susah. Tapi tenang teman, this is the part when I am talking to my self, not yours. Setiap orang punya cara masing-masing untuk memotivasi dirinya, mungkin ini cara gue untuk ngomong dengan diri gue sendiri dan lo bebas untuk mencari cara memotivasi diri lo sendiri.
Dan akhirnya disinilah gue sekarang, berusaha kembali memotivasi diri dan bergerak untuk menyelesaikan tanggung jawab gue sebagai seorang anak ke orang tuanya, sebagai seorang mahasiswa pada tugas akhirnya, dan sebagai seorang individu pada dirinya. I’ll do my best..I promise.
Ps:
1. Terima kasih utk para motivator dan manusia super, yang percaya kalo gue bisa menyelesaikan semuanya ini disaat gue sendiri mulai tidak percaya. Tuhan baik banget telah memberikan kalian buat gue..
2. Untuk teman-teman yang juga terdemotivasi, gue mungkin hanya bisa mengatakan bersemangatlah, hanya kita yang bisa memulai dan menyelesaikannya.
Recent Comments